Profil Wilayah Desa

superadmin 05 Maret 2019 15:49:33

Profil Desa Bugel

 

Awalnya, kondisi tanah di Desa Bugel yang terletak di tepi pantai selatan ini berupa gundukan pasir (oleh warga setempat disebut gumuk pasir) bergelombang. Setiap kali ada angin kencang, pasir ini akan bergerak dari tempatnya semula sehingga tidak bisa ditanami apa pun. Dan karena berhadapan langsung dengan lautan luas dan tanpa tanaman pelindung, desa yang terletak di Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini pun rentan terkena tsunami.

Suhu tanah di kawasan ini sangat tinggi. Pagi hari, sekitar pukul 7, suhu permukaan tanah bisa mencapai 28o C. Puncaknya, pada pukul 1 siang, suhu tanah bahkan bisa mencapai 40o C. Dengan suhu yang sangat panas, maka kadar air tanah hanya berkisar 0,16 sampai 0,32 persen.

Penguapan air (evapotranspirasi) di sini sangat tinggi. Air sangat mudah menguap dari tanah. Sebaliknya, kandungan bahan organik dalam tanah sangat rendah, berkisar antara 0,2 sampai 0,75 persen. Tingkat keasaman (pH) tanah antara 6—6,8. Intinya, lahan di sini sangat tidak bagus untuk pertanian.

Meski demikian, kedalaman air tawar di tempat ini hanya 5—6 meter. Air sumur inilah yang menjadi modal besar petani setempat untuk mengubah lahan kritis ini menjadi lahan pertanian.

 

Mengubah Lahan Kritis

.

Enam tahun lalu, Tim Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) memulai penelitian di daerah tersebut. Tim peneliti mulai dengan menanam 800 pohon cemara udang (Casuarina equisetifolia) di tepi pantai. Selain berfungsi memecah angin laut yang berkadar garam tinggi dan merusak tanaman pertanian (wind breaker), serasah pohon-pohon itu juga dipakai sebagai mulsa bagi tanah. Pohon cemara ini juga ditanam untuk menekan terjadinya pemindahan tanah, merangsang iklim mikro di kawasan tersebut, dan mengurangi potensi terjadinya tsunami di wilayah yang memang sangat terbuka tersebut.

Selanjutnya, di lahannya masing-masing, petani menanam pohon buah naga (Hylocerous undartus sp), satu varietas lahan kering. Pengelolaan lahan ini dilakukan dengan cara penambahan bahan organik, pemupukan, dan penggunaan teknologi tepat guna.

Pemupukan menggunakan pupuk kandang dari kotoran sapi dan mulsa pohon cemara udang, bukan pupuk kimia. Rata-rata petani di desa ini mempunyai tiga ekor sapi. Jadi, kotoran sapi sebagai bahan untuk pupuk organik dengan mudah bisa didapat. Biasanya pemupukan ini dilakukan secara gotong royong. Adapun penggunaan mulsa organik bertujuan mengurangi penguapan air tanah (evaporasi). Mulsa ditebar di atas tanah yang sudah dibuat menjadi guludan.

 

Bagian paling penting dari perubahan lahan di sini adalah penggunaan teknologi tepat guna. Ada tiga teknologi yang digunakan yaitu mulsa plastik, sumur renteng, dan lapisan untuk mengurangi permeabilitas tanah. Pemakaian mulsa plastik dimaksudkan untuk menjaga kelembapan tanah. Adapun sumur renteng adalah teknologi sederhana berupa sumur-sumur kecil berair tawar untuk mengairi lahan. Ada satu sumur utama yang airnya dialirkan ke sumur-sumur kecil lainnya lewat pipa. Gunanya untuk memudahkan petani menyiram tanaman. Petani tinggal menciduk air dari sumur terdekat, tanpa harus ke sumur utama. Sumur renteng ini merupakan kearifan lokal yang menggunakan prinsip termodinamika dalam ilmu .sika.

Agar air siraman tidak langsung hilang karena tanah yang berpasir, di bawah lahan diberi bahan “pembenah tanah” berupa bentonit atau tanah lempung. Sayangnya, bentonit yang bisa dipakai selama enam sampai tujuh tahun ini harganya relatif mahal, sekitar Rp 30 juta. Karena itu petani lebih suka memakai tanah lempung.

Bahan pembenah tanah ini berada sekitar 40 cm di bawah permukaan tanah. Di atasnya ada pasir setebal 33 cm, dan jerami. Agar tanah itu subur, 5 cm paling atas dari tanah ini adalah campuran dari lempung, pupuk kandang, zeolit, dan pasir. Semen tidak dipakai karena membuat air cenderung tertahan, tidak meresap ke dalam tanah. Akibatnya permukaan lahan malah becek dan merusak tanaman.

 

Hasil Berlimpah Meningkatkan Status

Dengan menggunakan teknologi tepat guna tersebut, lahan kritis di Desa Bugel ternyata bisa berubah. Tidak sekadar menghasilkan, tetapi juga berlimpah. Sayuran seperti cabai, sawi, bawang, dan semangka bisa menghasilkan panen berkali lipat dibandingkan di daerah lain. Kemampuan ekonomi dan status sosial petani pun meningkat.

Komoditas unggulan petani setempat adalah cabai merah, sawi, dan semangka. Usaha hortikultura ini mengalami peningkatan signi.kan dengan teknologi yang sekarang digunakan. Misalnya komoditas semangka. Perhitungan pada lahan seluas 0,17 hektar dengan biaya usaha sekitar Rp 850 ribu per musim bisa menghasilkan hingga 4 ton. Hasil penjualan yang bisa diterima petani sampai Rp 3,2 juta. Namun, semangka tidak selalu ada sepanjang tahun. Buah ini umumnya ditanam antara Januari hingga Februari dan Oktober hingga Desember.

Komoditas lain yang juga mengalami peningkatan adalah cabai merah. Menurut penelitian Tim Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM, usaha cabai merah di atas lahan seluas 0,15 hektar bisa menghasilkan sekitar 2 ton cabai merah. Biaya yang diperlukan petani sekitar Rp 2,5 juta per musim. Biaya itu bisa ditutupi karena keuntungan kotor dari penjualan cabai mencapai Rp 14 juta per musim. Kalau dihitung, keuntungan bersih petani sekitar Rp 11,5 juta.

Selain semangka dan cabai merah, komoditas lain adalah sawi. Untuk usaha di atas lahan seluas 0,08 hektar, petani perlu biaya sebesar Rp 572 ribu untuk satu musim tanam, sekitar 15—20 hari. Keuntungan yang didapat sekitar Rp 1,6 juta untuk areal seluas 0,08 hektar.

Meningkatnya pendapatan petani setelah mengolah lahan pasir ini membuat status ekonomi dan sosial mereka naik. Sebagai contoh, daerah ini semula agak tandus dan tidak produktif sehingga warga desanya melakukan urbanisasi dan bekerja di kota. Namun karena tanahnya sudah produktif, kaum muda desa ini tidak lagi pergi ke kota. Mereka memilih bertani di desa. Peningkatan ekonomi juga membuat rumah berdinding bambu di desa tersebut kini berdinding tembok. Sarana ibadah makin megah. Sepeda motor pun ada di setiap rumah warga, sesuatu yang dulunya langka.

Pengalaman petani di Kulon Progo memberikan pelajaran bahwa petani dengan lahan kritis masih bisa mengubah kondisi mereka tanpa harus merusak alam. Pertama, petani menggunakan teknologi secara arif, yaitu teknologi ramah lingkungan untuk menjamin pertanian berkelanjutan. Contohnya, mereka tak mengubah gumuk- gumuk pasir dan tidak menggali terlalu dalam. Kedua, mereka sudah menjalankan sistem pertanian terpadu, dengan menggabungkan bercocok tanam dengan beternak sapi. Kotoran sapi kemudian dimanfaatkan untuk memperbaiki kesuburan tanah.

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Wilayah Desa

Peta Desa

Aparatur Desa

Komentar Terkini

Info Media Sosial

Facebook

Lokasi Kantor Desa

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung