You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Kalurahan Bugel

Kap. Panjatan, Kab. Kulon Progo, Prov. DI Yogyakarta
Info

Sejarah Desa


Sejarah Desa Bugel

Perang Diponegoro sebagai bentuk perlawanan kaum pribumi di Ngayogyakarto terhadap Belanda. Perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda terus dikobarkan. Walaupun Pakuwon Goa Selarong telah bedah dan Pangeran Diponegoro setelah ditangkap Belanda namun semangat dan kegigihan Pangeran Diponegoro terus mengalir di setiap jiwa penderek Pangeran Diponegoro.

Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap maka penderek Pangeran Diponegoro melanjutkan perang gerilya, maka berpencarlah di berbagai tempat dan menyamar sebagai rakyat biasa. Hal tersebut untuk menghindari tentara Belanda.  Salah satu kelompoknya masuk ke wilayah Selatan adalah Ki Troijoyo, Ki Sabuk Janur, Ki Daruno, Ni Daruni dan Nyi Ngrangrangan bersembunyi di Pantai Selatan yaitu di Hutan Ngrangrangan.

Seiring dengan berjalannya waktu, maka semua penderek Pangeran Diponegoro bermukim di tempat tersebut yang awalnya merupakan hutan pesisir pantai selatan dan rawa-rawa dan secara perlahan berubah menjadi sebuah desa kecil.

Nama Bugel diambil dari kisah ketika babat alas di hutan Ngrangrangan, yang dipimpin Seorang Prajurit Putri yang dikenal dengan nama penyamaran Nyi Ngrangrangan. Beliau memerangi penghuni alas dan menebang pohon. Ada salah satu pohon besar yang tidak bisa ditebang. Beliau mengerahkan kekuatan untuk membakarnya. Namun berkali-kali dibakar hanya bagian atas yang bisa terbakar. Banyak pengikut dan warga tersebut sangat terheran-heran. Nyi Ngrangrangan berucap  " Dadi Awu Setugel Abu Setugel inilah Desa Bugel "

Bagikan artikel ini: