You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan Bugel
Kalurahan Bugel

Kap. Panjatan, Kab. Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta

Selamat Datang di Website Resmi Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo

Harapan Dalam Bingkai Tradisi: Kajian Tingkep Tandur Kalurahan Bugel

Redaksi 06 Juni 2022 Dibaca 1.446 Kali
Harapan Dalam Bingkai Tradisi: Kajian Tingkep Tandur Kalurahan Bugel

Profil Upacara Tingkep Tandur

Upacara tingkep tandur adalah sarana meminta berkah, berupa harapan yang disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi hasil panen yang melimpah baik dari panen sebelumnya dan selalu diberikan keselamatan dalam menggarap sawah mulai dari masa tanam sampai panen berakhir. Upacara ini merupakan wujud ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang lalu. Selain itu juga sebagai wujud persembahan terhadap kekuatan makhluk-makhluk halus seperti arwah para leluhur, lelembut, demit, dan jin yang mbahureksa atau berdiam diri di tempat-tempat tersebut sehingga memberikan perlindungan dan tidak mengganggu selama petani menggarap sawah. Masyarakat Desa Bugel percaya bahwa terdapat dewi penjaga kesuburan tanah serta melindungi tanaman padinya terhadap gangguan-gangguan hama tanaman padi, dan dianggap berasal dari para lelembut atau jin. Maka dari itu, petani di Desa Bugel merasa memiliki kewajiban untuk memberikan persembahan berupa sesaji.

Bagi masyarakat Desa Bugel yang bermata pencaharian sebagai petani, keberhasilan dalam bertani dapat diukur dengan adanya hasil panen yang melimpah, serta diberikannya keselamatan selama proses penggarapan sawah. Masyarakat petani memaknai keberhasilan tersebut sebagai peristiwa yang sangat penting dan wajib untuk dilaksanakan. Hal tersebut bertujuan untuk mengucap rasa syukur kepada Tuhan serta leluhurnya lewat adanya upacara tingkep tandur ini.

Tingkep tandur dilakukan setelah usia tanaman padi 60 hari setelah panen atau biasa disebut tandur meteng. Tradisi ini sebagai wujud syukur dan doa kepada Tuhan agar penyerbukan optimal sehingga bulir padi penuh terisi. Upacara ini dilengkapi dengan kenduri yang dilakukan dengan saling menukar berkat yang dibawa oleh masing-masing warga yang hadir.

Sejarah Upacara Tingkep Tandur

Lahan irigasi atau pertanian di Desa Bugel merupakan dataran rendah dan bekas rawa-rawa, sehingga setiap kali musim penghujan datang, lahan pertanian akan tergenang air cukup dalam dan biasanya musim tersebut bertepatan dengan musim tanam padi kedua. Adanya permasalahan tersebut mengakibatkan kesulitan bagi petani Desa Bugel dalam menggarap sawahnya. Hal tersebut berdampak pada penurunan hasil panen yang mereka peroleh. Masyarakat Desa Bugel masih sangat mempercayai aliran animism dan dinamisme yang terlangsung sejak jaman nenek moyang terdahulu. Sejarah perkembangan religi orang Jawa telah dimulai sejak zaman prasejarah, dimana pada waktu itu nenek moyang orang Jawa sudah beranggapan bahwa semua benda yang ada disekelilingnya itu bernyawa dan semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan ghaib atau mempunyai roh yang berwatak baik maupun jahat (Budiono, 2008: 156 dalam kutipan 67).

Anggapan dasar yang dipercaya masyarakat Desa Bugel membuat mereka berangan-angan bahwa disamping segala roh yang ada tentunya ada roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia untuk menghindarkan gangguan. Dari roh tersebut masyarakat Desa Bugel memuja-muja dengan jalan mengadakan upacara. Roh yang bersifat baik, mereka mintai berkah agar melindungi keluarga sedangkan roh yang jahat, mereka minta agar jangan mengganggunya.

Penurunan hasil panen yang terjadi di Desa Bugel dikait-kaitkan dengan adanya mitos yang berkembang di masyarakat. Sehingga apabila tidak melaksanakan slametan maka petani akan mengalami kemalangan hingga gagal panen. Pada mulanya hanya beberapa petani yang mempunyai inisiatif membawa makanan dan bermacam-macam sesaji ke sawah untuk diberi mantera dan dipersembahkan bagi yang mbahurekso dan roh-roh para leluhur.

Maksud diselenggarakannya sesaji ialah untuk mendukung kepercayaan mereka terhadap adanya kekuatan makhluk-makhluk halus seperti lelembut, demit, dan jin yang mbahureksa atau yang berdiam diri di tempat-tempat tersebut agar jangan mengganggu keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan keluarga yang bersangkutan. Atas dasar kepercayaan tersebut, petani Jawa beranggapan bahwa ada tokoh Dewi Sri. Dewi Sri dianggap sebagai dewi penjaga kesuburan padi dan tanah yang melindungi tanaman padinya terhadap gangguan-gangguan hama tanaman padi dan dianggap berasal dari para lelembut atau jin. Setelah masuknya ajaran agama Islam, terjadilah akulturasi busaya sehingga pelaksanaan tradisi yang sangat kental dengan adat Jawa tersebut pada masa sekarang diberi roh ajaran Islam yaitu dengan membaca doa yang ditunjukkan kepada Allah SWT sesuai kepercayaan dan keyakinan ajaran agama Islam.

Seiring berjalannya waktu ternyata kebiasaan membawa bekal dan sesaji tersebut mendatangkan banyak manfaat dan menambah semangat petani dalam menggarap sawahnya, sehingga dapat meningkatkan hasil panen dan atas prakarsa sejumlah warga petani tersebut kemudian diikuti oleh semua warga yang menanam padi di bulak Bugel, dengan pemikiran apabila hal tersebut dilakukan secara bersamaan, maka kemungkinan terkabulnya permintaan tersebut juga semakin besar. Sehingga upacara tersebut dibudayakan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dengan prosesi magis dan sakral.

Menurut pengakuan masyarakat petani Bugel, upacara tingkep tandur ini pernah sekali tidak dilaksanakan dan ternyata berimbas pada kemalangan yang menimpa warga. Kemalangan tersebut berupa hasil panen yang kurang baik entah terkena hama atau terkena gangguan gaib lainnya. Seiring berkembangnya jaman, upacara tradisi ini rutin dilakukan oleh masyarakat yang menanam padi di wilayah Bugel.

Penamaan tradisi tersebut berdasarkan istilah orang Jawa, dimana upacara tradisi tersebut dilakukan pada saat padi mekatak atau mulai mengeluarkan bulir padi, biasanya pada saat tanaman berusia 60-70 hari. Masyarakat petani Bugel beranggapan bahwa pada saat itulah Dewi Sri sedang mengandung, untuk itulah masyarakat Bugel melakukan upacara persembahan. Seperti halnya manusia, tanaman juga diperlakukan secara manusiawi. Pada waktu tanaman mengeluarkan bulir padi, dilakukan upacara tingkeban layaknya manusia yang mengandung dalam usia tujuh bulan, sehingga masyarakat setempat menanamkan upacara tradisi tersebut dengan istilah ‘Tingkep Tandur’.

Aktivitas/Tradisi Upacara Tingkep Tandur

Tingkep tandur pada masyarakat petani Bugel berupa genduri yang pelaksanaannya dilakukan secara ajaran Islam, seringkali warga masyarakat menyebutnya sebagai sedekah karena saling memberikan manfaar kepada orang lain dengan cara bertukar dan berbagi makanan. Terdapat hal yang unik dalam upacata tradisi tersebut yaitu perlengkapan serta sajian kenduri merupakan hasil dari paham kepercayaan tradisi Jawa, akan tetapi acara tingkep tandur tersebut dilaksanakan sesuai ajaran agama Islam. Saat ini acara tersebut dikemas dengan lebih sederhana. Upacara masa lalu setelah ritual selesai, masih dilanjutkan kembali dengan acara pesta pada malam harinya. Selain acara makan bersama juga mementaskan kesenian seperti gejog lesung dan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk.

Akhir-akhir ini upacara tradisi tersebut juga dikemas secara formal, selain karena upacara tersebut melibatkan pejabat pemerintah desa yang juga berperan sebagai fasilitator, disamping juga sering adanya kunjungan dari dinas maupun instansi pemerintah lainnya. Akan tetapi fokus dan tujuan dari upacara tersebut masihlah tetap sama, yaitu sebagai wujud permintaan dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa lewat doa yang dipanjatkan secara bersama-sama, supaya kelak diberikan kelancaran dan keselamatan sampai panen berakhir, selain itu mereka juga berharap agar mendapatkan hasil panen yang melimpah. Meskipu permohonan tersebut sudah dilakukan menurut ajaran agama Islam, akan tetapi kepercayaan lama meminta berkah serta perlindungan kepada makhluk halus dan para leluhurnya masih tetap dilakukan. Hal tersebut tergambar, dimana masih adanya ritual khusus dengan memberikan persembahan sesaji kepada makhluk halus maupun kepada leluhurnya. Jadi, sampai saat ini upacara tersebut telah mengalami percampuran budaya antara budaya kejawen dengan ajaran agama Islam.

Makna Filosofis dari Ubarampe atau Aktivitas Upacara Tingkep Tandur

Adapun rangkaian perlengkapan upacara berupa sesaji dan makanan yang dihidangkan dan disajikan dalam upacara tingkep tandur antara lain sebagai berikut.

  1. Nasi Gurih atau Sega Wuduk

Nasi gurih yaitu nasi putih yang diberi santan, garam, dan daun salam agar menghasilkan cita rasa gurih pada nasi. Oleh karena itu masyarakat sering menyebutnya dengan nama sega gurih. Sega gurih ditujukan untuk Nabi Muhammad SAW sehingga namanya juga sering disebut dengan sega rasul. Sega rasul memiliki makna doa sholawat untuk Nabi Muhammad dan keluarga serta para sahabatnya. Doa tersebut mengharapkan keselamatan dapat menular dan terlimpahkan pada masyarakat yang melaksanakan upacara tingkep tandur tersebut. Nasi tersebut disediakan oleh ibu-ibu yang nantinya dibagikan kepada semua warga yang datang secara merata, akan tetapi nasi tersebut sebelumnya diberi doa sehingga warga masyarakat yang memakan nasi gurih ini percaya bahwa akan mendapat keselamatan dalam menjalani kehidupan.

  1. Ingkung Ayam

Ingkung ayam yaitu ayam utuh yang tidak dipotog-potong dan dimasak dengan cara direbus dengan bumbu tidak pedas ayam yang digunakan hanya ayam jantan yang besar dan tidak ada cacat sedikitpun. Ingkung sebagai pelengkap nasi gurih dengan disajikan di atas nasi gurih. Ingkung melambangkan manusia ketika masih bayi sebelum dilahirkan. Pada saat bayi manusia masih suci dan belum memiliki dosa apapun, dalam upacara tradisi tersebut ingkung ayam disajikan dengan maksud untuk mensucikan masyarakat petani Bugel atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat baik yang disengaja maupun tidak disengaja, selain itu ingkung juga melambangkan keutuhan warga dalam segala hal, termasuk kekompakan dan keharmonisan warga dalam menggarap sawah. Ingkung juga merupakan gambaran sifat binatang/nafsu. Perlambang ini memiliki harapan agar manusia ketika memiliki keinginan dapat mengendalikan hawa nafsu.

  1. Nasi Tumpeng

Nasi tumpeng yaitu nasi yang disajikan dalam bentuk mengerucut. Tumpeng merupakan bentuk ucapan terimakasih masyarakat petani Bugel kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga tumpeng ini mempunyai makna bahwa di dunia ini terdapat penguasa yang paling tinggi yaitu Tuhan yang menciptakan dunia beserta isinya. Tumpeng juga bermakna sebagai penghargaan kepada Tuhan atas segala permohonan masyarakat petani Bugel terkabulkan. Di sekeliling tumpeng terdapat telur yang berjumlah 7 atau 11. Telur yang berjumlah 7 bermakna ‘pitulungan’ (memohon pertolongan kepada Tuhan). Sedangkan telur yang berjumlah 11 bermakna ‘kawelasan’ (memohon belas kasih kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang).

  1. Nasi Ambeng

Nasi ambeng yaitu nasi dengan lauk-pauk pencok kedelai. Dimaknai sebagai wujud keberhasilan dan kesuburan dalam kegiatan persawahan dan sebagai lambing permohonan keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Nasi ambeng memiliki makna bahwa sesudah diberi aturan semua masyarakay petani Bugel supaya menghalalkan dan menjalankan upacara tingkep tandur tersebut dengan ketulusan hati.

  1. Sega Golong

Sega golong yaitu nasi yang berbentuk bulat seperti kepalan tangan. Sega golong mempunyai makna, bahwa sesuatu hal yang sudah mantap dan berasal dari hati hendaklah menjalankan semua tugas dengan tekad yang kuat. Dalam upacara tingkep tandur ini mempunyai makna bahwa seluruh masyarakat petani Bugel mempunyai tekad untuk bersatu dalam melaksanakan upacara tingkep tandur tersebut dengan segala kondisi yang ada.

  1. Gudangan

Gudangan harus terdapat seikat utuh kacang panjang yang mengandung makna ‘dawa ususe’ yakni sifat sabar dalam merawat tanaman dalam hal ini padi.

  1. Goreng-gorengan

Goreng-gorengan yaitu lauk-pauk yang dimasak dengan cara digoreng dengan minyak. Makanan seperti tempe, rempeyek, kerupuk dan lainnya jaman dulu merupakan makanan yang istimewa dan nikmat karena dimasak menggunakan minyak goreng. Dengan kata lain goreng-gorengan melambangkan kenikmatan.

  1. Pisang Raja

Masyarakat Bugel beranggapan bahwa pisang raja merupakan pisang yang paling bagus diantara jenis pisang lainnya, sehingga pisang raja dipakai sebagai kelengkapan sesaji. Pisang raja melambangkan kepatuhan masyarakat petani Bugel atas semua peraturan yang telah ditetapkan oleh Sang Penguasa, seperti halnya kepatuhan rakyat kepada rajanya. Selain itu pisang raja sebagai lambing para pengikut supaya tetep dan lengket sehingga hubungan antara rakyat dan rajanya akan tetap abadi dan melekat.

  1. Air Putih dalam Kendi

Penggunaan air putih dalam kendi tersebut mempunyai maksud sebagai persembahan kepada Dewi Sri pada suatu saat jika berkunjung, berarti pula membersihkan agar seseorang berbuat bersih.

  1. Daun Keluwih

Penggunaan daun keluwih mempunyai maksud bahwa setiap petani memetik hasil panen padi selalu diberikan kelebihan.

  1. Daun Sirih

Penggunaan daun sirih mempunyai maksud sebagai persembahan kepada Dewi Sri jika ingin menyirih. Dewi Sri sendiri dalam masyarakat petani Bugel dipercaya sebagai Dewi padi atau dewi penyubur tanah dan tanaman.

  1. Daun Tawak

Penggunaan daun tawak tersebut mempunyai maksud jika suatu saat nanti hasil panen berupa padi akan dijual, maka hasil panen tersebut akan mudah dijual atau ditawarkan.

  1. Bunga Setaman

Masyarakat Bugel sering menyebutnya dengan istilah kembang setaman, maksudnya sebagai persembahan dan yang penugu sawah dan Dewi Pertiwi yaitu dewi bumi, oleh sebab tu bumi sering digambarkan sebagai wanita yang suka terhadap bebungaan. Selain itu, bunga sebagai lambing permohonan dan keharuman.

  1. Kemenyan

Kemenyan memiliki arti sebagai persembahan kepada makhluk halus penunggu sawah.

  1. Payung Kecil

Payung kecil digunakan sebagai pelindung bagi penunggu sawah dari panas matahari dan hujan ketika leluhur menyantap sajian yang disediakan.

  1. Jajanan Pasar

Jajanan pasar yaitu sesaji yang terdiri dari berbagai macam makanan yang dibeli di pasar mempunyai makna sebagai suatu pengharapan agar masyarakat petani Bugel selalu mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu jajanan pasar melambangkan beragamnya keinginan dalam kehidupan di dunia.

  1. Tenong

Tenong yaitu wadah yang terbuat dari anyaman bambu dan bentuknya bulat biasanya digunakan sebagai tempat meletakkan sesaji.

  1. Uang wajib atau pasok tukon

Adanya pasok tukon mempunyai maksud apabila ada sesaji yang masih kurang, diharapkan para leluhur bisa membeli sendiri kekurangan tersebut. Selain itu uang wajib tersebut juga digunakan untuk biaya upacara tingkep tandur berikutnya.

Nilai Budaya Upacara Tingkep Tandur

Nilai budaya pada upacara tingkep tandur terbagi menjadi tiga moralitas yaitu sebagai berikut.

  1. Moralitas Ketuhanan

Umat manusia yang beragama selalu diajarkan untuk mengucapkan syukur atas berkah serta rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Desa Bugel mewujudkan rasa syukur tersebut dengan menggelar upacara tradisi tingkep tandur. Ungkapan rasa syukur tersebut diwujudkan melalui kenduri, ikrar, dan doa secara tuntunan Islam. Kenduri merupakan tradisi Jawa yang masih kental dengan kepercayaan lama seperti adanya sesaji, akan tetapi saat ini telah dimasukkan unsur agama Islam.

Dari hasil wawancara dan pengamatan terungkap bahwa upacara tradisi tingkep tandur di Desa Bugel Kecamatan Panjatan merupakan salah satu ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang sebelumnya. Selain itu, upacara ini merupakan sarana pengharapan dan doa akan hasil panen yang lebih baik lagi untuk panen yang akan datang. Seberapa hasil panen mereka musim lalu, banyak atau sedikit, mereka tetap mengadakan upacara tingkep tandur. Namun nuansa kemoralitasan ketuhanan pada upacara tersebut kurang mendalam dan khidmat sebab dalam upacara tersebut masih terdapat campuran tuntunan Islam dan aturan kejawen yang merupakan adat turun temurun para leluhur.

  1. Moralitas Lingkungan

Masyarakat Desa Bugel memiliki kearifan lokal yang khusus dalam kaitannya dengan kehidupan lingkungan disekitarnya. Terutama mengenai hubungan manusia dengan lingkungan alam disekitarnya. Ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang alam itu sebagai sesuatu hal yang begitu dahsyat sehingga pada hakikatnya manusia hanya bisa menyerah tanpa adanya usaha yang besar. Sebaliknya, ada pula kebudayaan yang memandang alam itu sebagai suatu hal yang bisa dilawan oleh manusia dan mewajibkan manusia untuk selalu berusaha menaklukkan alam. Disamping itu ada kebudayaan yang menganggap bahwa manusia itu hanya bisa berusaha mencari keselarasan dengan alam (Koentjaraningrat, 2009: 26 dalam Yanuar 2016: 10).

Upacara tradisi tingkep tandur secara tidak langsung merupakan upaya manusia untuk mencari keseimbangan dengan alam sekitar. Manusia tidak hanya sekadar memanfaatkan untuk kebutuhan hidupnya saja namun juga harus mampu untuk menjaganya. Dengan adanya kesadaran tersebut, kehidupan di lingkungan alam lebih terjaga dan lestari, kebutuhan pokok manusia juga akan terpenuhi. Selain itu, adanya tradisi tingkep tandur berfungsi sebagai media pelestarian lingkungan yang mana terlihat pada saat masyarakat bergotong royong dan kerja bakti dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama lingkungan yang berkaitan langsung dengan sawah seperti saluran irigasi atau parit. Mereka menyadari bahwa tempat tersebut merupakan salah satu sumber yang dapat memberikan kemakmuran bagi seluruh warga masyarakat. Mereka juga menyadari bahwa kehidupan manusia akan harmonis apabila hubungan antara manusia dengan lingkungan alamnya berjalan serasi, selaras, dan seimbang. Manusia membutuhkan alam untuk hidup, begitupula alam membutuhkan manusia untuk merawat serta menjaganya.

Berdasarkan uraian di atas, moralitas lingkungan yang terdapat di masyarakat Desa Bugel tampak dalam usaha mereka dalam menjaga serta memanfaatkan alam secara arif. Keharmonisan tersebut akan terus berlangsung jika ada keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud adalah tradisi tersebut dilakukan dari generasi ke generasi berikutnya.

  1. Moralitas Sosial

Moralitas sosial warga Desa Bugel terlihat kuat dalam pelaksanaan upacara tradisi tingkep tandur. Hal tersebut tercermin dari antusiasme masyarakat petani Bugel saat persiapan sampai dengan pelaksanaan upacara tradisi tingkep tandur berlangsung. Persiapan dilakukan sejak musyawarah penentu hari berlangsungnya upacara tersebut, musyawarah melibatkan semua warga petani dari generasi muda sampai generasi tua. Hal tersebut bertujuan agar mereka mempunyai kesadaran serta tanggungjawab mengenai tugas dan peran masing-masing. Persiapan juga berkaitan dengan persiapan tempat berlangsungnya upacara. Mempersiapkan berbagai macam perlengkapan ataupun sesaji membutuhkan bantuan tetangga atau saudara agar dapat selesai dengan cepat, begitupun saat pelaksanaan tradisi tingkep tandur.

 Masyarakat petani biasa bekerjasama ataupun bergotong royong. Selain untuk mendapatkan ketentraman batin, upacara tingkep tandur tersebut juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antar masyarakat petani maupun dengan pemerintah desa. Komunikasi dengan pemerintah desa biasanya berkenaan dengan hal pembangunan desa seperti pembangunan saluran irigasi, pengerasan jalan maupun bantuan pertanian dari pemerintah pusat yang diakomodir lewat pemerintah desa. Sedangkan komunikasi antar masyarakat petani, biasanya berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut masalah pertanian.  Semua hal tersebut ditentukan melalui musyawarah antara warga masyarakat petani yang difasilitasi oleh pemerintahan desa. Fungsi lainnya adalah sebagai penguat rasa gotong royong dan kekeluargaan antar petani. Oleh sebab itu, untuk menjaga keselarasan hubungan horizontal seseorang wajib melakukan kewajiban sosialnya.

Nilai Pendidikan dari Upacara Tingkep Tandur

Nilai-nilai pendidikan dari upacara tingkep tandur di Desa Bugel menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi tersebut memberi sampak positif antara lain kerukunan, kebersamaan dan rsasa persatuan serta kesatuan anyar masyarakat dari berbagai golongan. Nilai-nilai pendidikan Islam terkandung dalam upacara tingkep tandur yaitu pendidikan tentang keimanan kepada Allah SWT, pendidikan akhlakul karimah, dan pendidikan ibadah (Umam, 2020). Urutan prioritas pendidikan dalam upacara tingkep tandur adalah sebagai berikut (Zuharini, 2018: 155).

  1. Pendidikan keimanan kepada Allah SWT

Pendidikan yang pertama dan utama untuk dilakukan adalah pembentukan keyakinan kepada Allah yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku, dan kepribadian peserta didik.

  1. Pendidikan akhlakul karimah

Berakhlak mulia merupakan modal bagi setiap orang dalam menghadapi pergaulan antara sesamanya.

  1. Pendidikan ibadah

Ibadah yang secara awam diartikan sesembahan. Pengabdian sebenarnya adalah sitilah yang paling luas dan mencakup tidak hanya penyembahan, tetapi juga berhubungan dengan laku manusia meliputi kehidupan. Yang paling beradab dari segi pandangan spiritual, adalah mereka yang mematuhi dengan sangat rapat kemauan Tuhan di dalam semua perbuatan-perbuatannya.

(Eska Elly Pratiwi (warga Pedukuhan IV Bugel), Akbar Al Masjid, M.Pd 
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,  Fak. Keguruan dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar)
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image